Kesimpulan itu diakhir, bukan diawal
Saat ni
banyak sekali bermunculan buku-buku pengembangan diri, kemudian buku tentang bagaimana kita
berpenampilan baik didepan orang banyak, bagaimana kita bersikap didepan orang
banyak dan sebagainya tentang kepribadian dan penampilan. Banyak dari buku itu
juga yang mengatakan bahwa, penampilan adalah hal yang paling utama. Pakaian itu
menunjukkan sifat dari si pemakainya. Sebenarnya, apa memang seperti itu.
Sampai satu
buku mengatakan bahwa, berpenampilanlah yang baik agar kau terlihat seperti apa
kau kenakan. Jika kau berpenampilan rapi, maka kau terlihat sebagai orang yang
rapi. Begitu sebaliknya, jika kau berpenampilan tidak rapi, wajah lusuh, tidak
fresh, baju kusut sana sini, maka orang lain enggan melihatmu, dan kau
tergambar seperti apa yang kau kenakan itu.
Temanku pernah
bercerita, dia bertemu dengan dua orang yang berbeda dengan sangat jauh. Orang pertama
dia menggunakan setelan baju dengan jas lengkap dengan dasinya. Sementara orang
kedua menggunakan kaos oblong, wajah sudah tidak muda lagi, rambut keriting
agak panjang, celana pendek dan sandal jepit.
Dia bertemu
dengan kedua orang yang berbeda tersebut didekat terminal saat ia hendak
pulang. Dia sengaja meninggalkan motornya ditempat parkir, dan pulang dengan
naik bis karena ada alasan tertentu yang tidak memungkinkan dia bawa motor.
Dia bingung,
orang mana yang mau dia titipkan motornya. Dengan bapak yang berpakaian rapi
itu kah, atau dengan orang itu. Lalu , dia memutuskan menitipkan pada orang
yang kedua. Setelah beberapa hari, sekitar 3 hari kepulangan dia kekampungnya
tanpa motor. Dia kembali, hendak mengambil motor pada orang yang dia titipkan.
Bertanyalah
dia pada tukang becak. Tukang becak kemudian mengatakan “wah beruntung mas,
sampean menitipkan motornya sama bapak itu, coba kalau sama orang yang
disampingnya itu(orang pertama) pasti sudah raib mas”
“kenapa
bisa begitu pak?”. “Kemarin, dia mencuri salah satu motor yang diparkir dekat
sini, tampangnya saja seperti orang bener, ternyata yaa maling”. Begitulah tukang
becak itu bercerita. Dia bersyukur dalam hati, beruntung dia masih diberikan
keselamatan dan dijauhkan dari orang yang berbuat jahat itu.
Kemudian
dia pergi kerumah bapak yang ia titipkan. Betapa terkejutnya dia, saat melihat
rumah bapak itu. Rumahnya luar biasa besar, dan kaya, di garasinya ada dua
mobil dan dua motor besar, juga ada 1 motor butut, dan itu miliknya.
“hai,
ini motormu saya siapakan, hari ini aku ingat, kamu mau ngambil motormu”
“terimakasih
banyak pak”
Awalnya dia
sempat berpikir, orang kedua ini akan membawa lari motornya. Selama perjalanan
pulang, dan selama dirumah dia tidak yakin sebenarnya sama orang itu. Orang dengan
berpenampilan seperti itu, tidak rapi, compang-camping. Ternyata, dia jauh
lebih rapi tabiatnya daripada yang berpenampilan rapi.
Aku tertegun
dan heran, yaa sekaligus bersyukur bahwa dia tidak kehilangan motornya karena
diberikan pada orang yang tepat. Memang benar, jangan melihat buku dari
covernya saja. Mungkin memang covernya diluar sangat bagus, tapi isinya jelek.
Sama seperti
orang, misalkan kita melihat orang yang berjilbab. Siapa yang menjamin bahwa
orang berjilbab adalah orang baik?. Orang yang sama seperti jilbab yang dikenakan,
artinya dia bersikap dengan anggun, bertingkah anggun, berbicara anggun, setiap
berbicara adalah pembicaraan yang masuk akal dan bermanfaat. Tapi siapa yang
menjamin?
Lalu apakah
ketika kita melihat pria yang rambutnya gondrong, celananya robek sana robek
sini, ditelinganya pakai anting, di lengan bertato adalah pria yang tidak baik.
Pria yang tukang mabuk, jahat, kemudian “pemakai”. Apakah ada yang menjamin?
Sama halnya
kedua hal yang berlainan tersebut, belum tentu hal yang kita lihat baik itu
sebenarnya adalah hal baik. Belum tentu orang yang berpenampilan baik itu
adalah orang yang baik. Sebaliknya, orang yang berpenampilan buruk juga kita
tidak bisa berspekulasi bahwa dia punya tabiat yang buruk.
Please don’t judge a book froom it’s cover!. Karena kesimpulan itu ada di akhir, bukan diawal. Bukankah begitu?,
benar bukan?. Setiap kita bertemu dengan orang yang dicontohkan diatas,
sebagian besar akan berpikir sesuai dengan hal yang terlihat. Memang penampilan
adalah hal pertama yang terproyeksi dari mata kita, tapi itu juga belum tentu
menggambarkan semua kepribadiannya.
Tidak semua
hal yang terlihat buruk itu buruk dan begitu sebaliknya. Tapi hei, bukan
berarti saya mengatakan bahwa orang yang berjilbab itu belum tentu baik, atau
orang yang berpenampilan preman itu orang baik. Ini hanya sebuah cara pandang
saja terhadap suatu hal, bahwa semuanya itu tidak bisa kita tentukan diawal. Tidak
bisa kita simpulkan diawal, tidak bisa kita mengatakan itu jelek atau itu baik sebelum
kita benar-benar mengenalnya.
Ingat,
kesimpulan itu diakhir, bukan diawal
Malang,
14 Maret 2014
karya : Aziza sativa
00:47 WIB
karya : Aziza sativa
00:47 WIB
Comments
Post a Comment