Mabuk Gadget

Sekarang ini sudah bukan jaman lagi orang nulis surat terus diantar ke teman kita yang nun jauh disana, atau bukan jamannya lagi orang belanja harus pergi ke tokonya, dan lain sebagainya. Saat ini sudah masuk pada era teknologi, era teknologi yang membuat semuanya menjadi serba instan dan serba cepat. Bagaimana tidak, jika dulu kita harus menulis surat, kemudian kita kirimkan pada pak pos, dalam waktu 1-3 hari tergantung dari jauh tidaknya alamat, surat kita baru sampai. Sekarang? sejak kenal dengan namanya teknologi, tinggal pakai email, sekali ketik langsung kirim udah langsung nyampai ke orangnya. Baca buku sekarang gak harus ribet beli ke toko buku, bisa pakai internet, yang punya gadget bisa unduh aplikasi e-book dan itu sudah gratis. Banyak sekali manfaatnya teknologi saat ini, termasuk pada pertemanan kita, atau yang biasa kita sebut dengan sosial media.

Banyak sekali sosial media yang bisa kita gunakan, mulai dari yang paling umum yaitu Facebook, Twitter, BBM, Wechat, WA, Line, KakaoTalk, Path, wah masih banyak lagi layanan sosial media yang bisa dengan mudah kita unduh dan kita gunakan. Kita bisa dapat banyak teman dari sosial media, seperti Facebook misalnya. Mark Zuckerberg sang penciptanya
sengaja membuat hasil ciptaannya ini untuk bisa menghubungkan semua orang di dunia ini, mengubungkan orang-orang yang mungkin sudah lama tidak pernah bertemu. Kemudian, Twitter atau yang lainnya. Kita bisa tau aktivitas apa yang dilakukan oleh idola kita, karena kita follow misalkan, terus kita juga punya banyak teman dari kota yang berbeda, atau bahkan dari negara yang berbeda. Tentunya ini sangat baik karena akan menambah jaraingan kita nantinya atau relasi kita.

Sayangnya, menjamurnya penggunaan gadget di masyarakat ini membuat relasi yang nyata malah menjadi jarang atau kurang, justru relasi maya yang semakin marak dilakukan oleh masyarakat kita dewasa ini. Terkadang kita mendapati orang duduk dengan gadgetnya di salah satu tempat sambil tertawa sendiri, dengan jari yang menekan tuts Smartphonenya membalas chat dari temannya. Sementara tidak ada untuk tegur sapa dengan orang yang disampingnya. Hal ini menjadikan orang menjadi apatis terhadap lingkungan sekitarnya.

Kemarin saya menemani teman untuk penelitian disalah satu sekolah, dan menjadi observer disana. Salah satu murid berkata pada saya, "bu, hapean aja, kok ra ngajar?". Langsung saya matikan handphone dan tidak menyentuhnya kembali. Malu sekali rasanya, memang tugas saya disana tidak banyak hanya menjadi seorang observer yang mengawasi tingkah laku siswa dan bagaimana teman saya menyampaikan materi.

Memang benar, setiap kali saya selalu mengecek hape lihat apakah ada yang BBM atau ada pemberitahuan di Facebook atau yang lainnya. Jadi seperti asik sendiri dengan gadget yang saya gunakan. Disini benar-benar membuat saya sadar bahwa memang sebenarnya, interaksi itu penting. Interaksi nyata maksutnya, bukan interaksi dengan teman-teman maya yang lain di sosial media.

Kalau kita terlalu sibuk berinteraksi dengan orang maya yang bahkan kita tidak tahu siapa dia, darimana asalnya, bisa saja informasi di sosial media itupun fiktif. Lalu, kapan kita punya waktu untuk bersilaturahmi dengan orang lain, berjabat tangan dengan orang lain, dengan orang baru, bertatap muka dengan teman kita, dengan orang lain.

Semua memiliki positif dan negatifnya. Bukan berarti teknologi ini menjadi hal yang buruk karena memecah kebiasaan kita untuk bersilaturahmi dengan orang lain dengan langsung. Tapi, mari kita gunakan gadget kita dengan pintar, dan tidak terlalu terlarut dengan gadget yang kita gunakan. Jangan apatis dengan lingkungan :)

Malang, 8 April 2014
Aziza sativa

Comments

Popular Posts