ketika detik jam mundur selangkah

aku melihatnya, saat itu aku saat aku duduk diteras didepan sebuah taman disalah satu sudut di kotaku. sore itu aku melhatnya. wajahnya begitu jelas, paparan sinar senja sore hari itu menyinari tepat diwajahnya. senyumnya, tiba-tiba merekah, begitu manis. indah sekali aku melihatnya. iya, dia anggi, mantanku.

mataku tertuju padanya, sesekali aku memalingkan pandanganku saat ia tepat berada didepanku sambil ngobrol sama temannya. entah apa yang mereka obrolkan aku tidak bisa mendengarnya, itu tidak penting untukku, yang penting aku bisa melihatnya. setelah sekitar dua tahun aku tidak melihatnya, kini ia berada didepanku, walau berjarak agak jauh dari tempat aku duduk.

benarkah, dia Anggi mantanku?. hebat, dia berubah begitu drastis. dia berhijab, terlihat anggun sekali aku melihatnya. jika dulu aku melihatnya tanpa hijab yang sekarang ia pakai, dia ternyata jauh lebih cantik dan lebih anggun tanpa rambut indahnya yang terurai. angin meniup begitu lembut, membelai lembut hijabnya yang terurai, indah sekali.

"ngapain kamu"
sssssttt
ah sial, temanku mengagetkanku saja,
"ngapain kamu"
"duduk aja"
"oh iya ini artikel yang kamu butuhkan, sama referensi yang kamu butuhkan buat referensimu"
oh iya, aku sampai lupa kalau aku sedang menunggu temenku disini buat pinjamin aku buku dan carikan aku referensi.

lho, dia kemana, kemana anggi.
aku melihat ke segala arah, aku melihat ke sekeliling. sial, terlalu lama aku beribincang dengan temanku, makanya aku jadi kehilangan sosoknya. ah..rasanya aku...

*
siang itu aku melihatnya lagi. melihat Anggi, orang yang....pernah aku lukai perasaannya. aku melihatnya disebuah Mall, aku mengikutinya. dia berada diantara deretan toko assesories. aku melihatnya dari ujung kepala hingga ujung kaki, senyumnya, senyumnya menjadi poin utama. dia cantik, cantik sekali. aku melihatnya memilih-memilih sepatu-sepatu dan sesekali dia coba, tapi kemudian keluar dari toko, karena mungkin itu tidak menarik hatinya.



"ayo dong temenin aku cari sepatu"
"enggak ah, males"
"pliiiss"
"enggak"
"ya udah"

iya, dia pernah mengajakku, tapi aku gak pernah mau pergi bersamanya. kau tahu, tentu saja karna aku takut ketahuan sama cewekku yang lain waktu itu. selingkuhanku lebih tepatnya, makanya aku gak pernah mau pergi berlama-lama dengannya.

aku melihatnya dengan jelas sekarang, beberapa langkah didepanku dia berdiri bersama temannya. memilih sebuah gelang, gelang yang cantik sekali jika ada ditangannya. entahlah, apa yang merasukinya sampai dia memperhatikan penampilannya sekarang, beda sekali ketika bersamaku dulu, cuek. dia hanya meletakkan kembali gelang itu, tanpa membelinya.

"ini berapa mbak?"
"56000 mas"
"aku ambil"

*
sayang lagi apa
sms masuk, tak kuhiraukan

sayang, kok gak dibalas
aku matikan hapeku, diatap kamarku terbayang Anggi. wajahnya berkelebat diatas sana, bayangan saat ia berjalan dengan temannya, menyapa temannya, dan senyumnya. Anggi beda, anggi tampi begitu beda, gak sama seperti dua tahun silam. entahlah, aku terus mulai memikirkannya

di kampus, aku melihatnya, aku hanya bisa melihatnya dari belakang, tak kuasa aku menegurnya. aku yakin, dia pasti marah padaku. bayangan wajah anggi membelaiku hingga aku terlelap masuk dalam ruang mimpiku yang paling indah, Anggi.

*
kenapa semua badanku terasa ngilu, ngilu sekali rasanya ada merembes dari pelepisku. darah
"cepat panggil dokter sekarang!"
"hubungi ambulans sekarang juga!"
samar aku mendengar suara teriakan orang disekelilingku. aku dimana, apa yang sedang terjadi. aku tidak tahu, yang aku lihat hanya wajah... anggi. wajah anggi ada didepanku, tepat diatas wajahku. aku yakin ini mimpi, pandanganku semakin buram

"aaa...aaanggi...."
"aaang...gii"
dia melihatku, dan wajanya memerah. merunduk begitu lama, lalu tersenyum kearahku

"kamu akan baik-baik saja, tenang saja, kamu akan segera dibawa ke rumah sakit . kamu hebat sudah mampu berjuang sejauh ini, ada bagian yang luka parah disebelah kaki kananmu tapi sekarang sudah tidak apa2. teruslah berjuang" senyumnya seperti obat yang seketika membuatku menjadi tak merasa sakit, aku hanya mampu meraih tangannya, walau hanya tak lebih dari 3 detik sebelum aku ditarik masuk ke ambulans

*
"kamu tau siapa yang bawa kamu kesini?"
"siapa? anggi?"
anggi??, aku sudah mulai kembali normal, sembuh. ternyata waktu itu bukan mimpi. aku benar-benar melihatnya, menyentuh tangannya, setelah 2tahun tidak pernah melihatnya.
sayup aku mendengar dari seberang tempat dudukukku, suara yang sudah tak asing lagi bagiku, Anggi

"kenalin ini Anggi, pacarku"
deg! , mimpi apa aku ini, aku baru saja senang karna bisa menyentuh tangannya, dan ternyata dia masih mau menolongku dan memberikan senyumannya untukkku. tapi sekarang, aku sudah mendengar hal yang lebih mengejutkan lagi. anggi, punya pacar.

dia bahagia sekali,
"wah dokter reza, udah nyembunyiin dari kita kalau kalian udah lama jadian nii"
dokter?, jadi...pacarnya adalah dokter?
"asikk...ada pasangan baru nih, kita bebas dari bayar makan malam ini, hahaha"
sekali lagi aku melihat Anggi bahagia, tapi aku melihatnya tak sebahagia saat pertama aku melihatnya tersenyum di taman kota sore itu. dia, tertawa bersama pacar barunya, seorang dokter, pantas untuk Anggi yang pintar.

tiba-tiba, ah mata kita bertemu.
lama sekali dia melihatku, melihatku dengan sorot matanya yang begitu tajam. tapi kemudian mencair, ia tersenyum kearahku
ah... astaga
aaku merunduk begitu lama, rasanya seperti adegan di film. saat semua orang berjalan dengan langkah begitu cepat, tapi kita terdiam dalam satu waktu, seperti di pause.

pandangan  matanya saat melihatku dan senyumannya itu seolah mengatakan sesuatu . aku menyesal,, menyesal begitu dalam.
aku sadar bahwa...
Anggi , gak pernah minta hal yang aneh2 dan berlebihan padaku, gak kaya cewekku sekarang. dia hanya minta 1 tapi aku tak pernah melakukannya
...
mengenalkannya pada teman-temanku, sebagai pacarku...
Anggi...
senyummu, menamparku tepat disebuah ruang yang pernah melukai perasaannmu

aku masih mendengar tawanya,
aku masih melihat senyumnya,
tapi ia tak melakukan itu denganku,
tapi dengannya
seorang pria bertitel dokter, disampingnya...
Anggi


------
Malang, 9 September 2014
20.00 wib
Karya , Aziza sativa

Comments

Popular Posts